Wedo Setiawan, Ketua DPM Unib
Mahasiswa Keren: Kritis dan Solutif
Mahasiswa yang sigap akan menoreh banyak waktu yang bermanfaat
Sedangkan mahasiswa yang apatis akan tergerus oleh waktu.
Menjadi seorang mahasiswa merupakan nikmat yang luar biasa dirasakan oleh Wedo Setiawan, karena baginya hanya sebagian orang saja yang mampu menyandang predikat ini. Mahasiswa yang aktif berorganisasi ini sedang menempuh pendidikan S1 Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politk (FISIP) Universitas Bengkulu (Unib). Saat ini, ia lagi mengemban amanah menjadi Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unib tahun 2016. Sebelum dirinya menjadi Ketua DPM, ia sudah memiliki pengalaman menjabat di DPM Fakultas sebagai Ketua Divisi Komisi dan HAM pada tahun 2015.
Selain belajar dikelas, waktu Wedo dipadati dengan jadwal organisasi yang cukup padat. Ia juga aktif mengikuti kegiatan kampus seperti seminar, forum diskusi, ataupun kegiatan kemahasiswaan lainnya. Semangat yang ia miliki saat ini timbul karena sikap kritis penuh solutif yang dimilikinya, serta semangat yang ditularkan oleh sang mentor kepadanya.
Menurut pengalaman dan pengamatannya, mahasiswa kini terkhusus di Fakultas ISIP sudah banyak yang 'kaku' untuk menyuarakan pendapatnya. Padahal dengan melihat fenomena yang ada mahasiswa harusnya lebih kritis. "Ketika diminta berbicara mahasiswa diam. Dan ketika ditanya, jawabannya sering 'bukan urusan saya', toh kita memiliki banyak petinggi yang seharusnya bisa kita mintai sesuatu." Kata Wedo ketika diajak membahas persoalan sikap mahasiswa.
Sebenarnya, mengapa sih mahasiswa harus berpikir kritis dan memiliki ide-ide yang solutif? Saat ditanya kepada Ketua DPM. "Sebenarnya karena fungsi mahasiswa itu sendiri, yakni sebagai agent of change, setelah itu control social dan iron stock. Nah, kalau calon pemimpin masa depan saja sudah loyo, macam mana mau memimpin bangsa ini kelak? Apa mau mengulang kesalahan yang sama? *eh. Guyonan Wedo.
Sikap kritis pada dasarnya adalah sikap yang telah dimiliki seorang anak kecil. Adik-adik kita selalu menanyakan hal-hal baru yang ditemui dan tidak dimengerti. Itulah sikap dasar kritis. Rasa ingin tahu yang kuat dan tidak menerima begitu saja suatu hal yang mungkin telah dianggap lumrah. Nampaknya sedikit mirip dengan pola pikir Filsuf.
Persoalan yang ada ditengah-tengah kita sebenarnya lumrah. Hanya saja mahasiswa kurang sigap dalam menyikapi persoalan itu. Sebagai seorang mahasiswa, tentu sejak awal menginjak bangku kuliah harus sudah memiliki perencanaan yang matang. Tentang apa yang harus ia ikuti, siapa yang ia pergauli, sebatas mana ia mampu berkontribusi dan lain sebagainya. Lagi-lagi seorang mahasiswa yang cerdas ialah yang mampu untuk berpikir "out of the box", jangan kaku dan ragu. Mahasiswa harus bisa berkontribusi, menciptakan dan menemukan hal baru. Memiliki IPK Tinggi, organisasi baik, serta menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat. Dan yang terpenting adalah mahasiswa harus kritis.
Adapun berpikir solutif akan muncul setelah sikap kritis sudah lebih dulu muncul. "Lagi pula, tidak ada mahasiswa yang apatis, hanya saja mereka memerlukan cara-cara tertentu untuk mengeluarkan pendapatnya. Meskipun setiap orang beda caranya, jika mereka diajak tentu mereka juga mau." Kata-kat Wedo memberi keyakinan. Pengalaman Wedo sendiri, ia mengajak seluruh teman satu kelasnya untuk menyikapi permasalahan KRS online awal masuk semester genap ini. Pada saat itu, ketika portal akademik saling bertumbur jadwal, kelas dipindah tanpa sepengetahuan mahasiswa, dan ketika hal tersebut tak berujung pada penyelesaian padahal sudah 3 minggu proses perkuliahan belum bisa berjalan dengan efektif sebagaimana mestinya. Lantas Wedo dan atas nama teman satu kelas hingga satu angkatan di Jurusan sepakat untuk melakukan audiensi terkait permasalahan tersebut kepada pihak Fakultas. "Melihat kejadian tersebut, bukankah kita akhirnya sadar bahwa mahasiswa tidak apatis. Hanya saja yang dibutuhkan sekarang adalah kepekaan pada diri setiap mahasiswa itu sendiri untuk berpikir kritis lagi solutif." Jelas Wedo.
Diibaratkan kampus adalah sebuah Negara. Dimana didalam kampus juga terdapat Presiden dan Gubernur. Jika mahasiswa itu sendiri apatis dengan keadaan kampus, tidak peduli saat dosen tidak datang, tidak peduli dengan permasalahan kampus, bagaimana kampus yang didudukinya bisa maju? sama ibarat jika rakyat saja apatis terhadap negeri ini, bagaimana negeri ini bisa maju? Tidak cukup hanya pihak-pihak tertentu yang peduli. Harus ada dukungan dari semua pihaklah yang membuat negeri ini maju. Sama seperti kampus, tidak cukuo hanya pihak Birokrat dan sebagian mahasiswa saja yang peduli akan keadaan kampus. Tetapi harus seluruh penghuni kampus.
Sekarang tak usah terlalu memikirkan tentang apa yang kau dapatkan dari kampus ini, namun apa yang dapat kau berikan bagi kampus tercinta ini? Bukan seolah-olah tak mendengarkan setiap persoalan yang kita lihat. Namun bergeraklah, dan ambilah peran sebagai mahasiswa yang 'keren' itu.