Selasa, 22 Desember 2015

TEORI TUJUAN KOMUNIKASI


COMMUNICATION GOAL THEORY
(menurut buku Teori Komunikasi oleh Little John)

          Communication Goal Theory atau Teori Tujuan Komunikasi adalah teori yang berfokus pada bagaimana suatu kegiatan komunikasi dapat mencapai suatu tujuan.

          Tujuan adalah keadaan dimana seseorang ingin mencapai sesuatu keinginan. Keinginan untuk menjadi orang sukses, keinginan untuk menjadi orang kaya dan keinginan lainnya. Begitu pula dalam proses komunikasi, ketika seseorang ingin menyampaikan sebuah pesan, komunikator berharap komunikan dapat mengerti keinginannya. Hal tersebut merupakan tujuan dalam komunikasi. Tujuan yang lebih mendalam dari proses komunikasi tersebut ialah tujuan dalam menjalin hubungan yang baik pada kerabat/rekan, tujuan untuk menyampaikan informasi, atau tujuan untuk memberikan kritik dan saran kepada sesorang.

          Teori ini memiliki fenomena yang kognitif. Untuk itu perlu adanya perencanaan dalam pencapaian tujuan. Perencanaan yang telah direncanakan adalah rencana yang sesuai dengan situasi/keadaan yang terjadi. Contohnya: setiap mahasiswa yang melaksanakan kegiatan kemahasiswaan harus mempersiapkan rencana A dan B. Hal itu dimungkinkan jika rencana A tidak bisa berjalan, maka perlu dilakukan dengan rencana B.

KONSEP DASAR PEMBENTUKAN TUJUAN

          Dalam menentukan tujuan, secara tidak sadar kita akan mengaktifkan jaringan-jaringan dasar pemikiran dalam memori kita, yaitu mengenai konsep seseorang, ciri-ciri seseorang dan hasil apa yang kita inginkan. Dalam situasi tertentu, konsep tersebutlah yang akan aktif dalam memori otak kita. Sebagai contoh: ketika seorang ibu dan anaknya sedang duduk bersama di sebuah Taman, kemudian konsep dasar yang berhubungan dengan hal tersebut adalah cinta, kasih sayang, hubungan, yang kemudian pengaktifan mitra itu akan terjadi disaat seperti itu.

TUJUAN DAN PERENCANAAN

         Pada umumnya, perencanaan mengacu pada proses psikologi dan komunikasi yang kaitannya dalam mengingat, menghasilkan, melaksanakan, memodifikasi, dan negosiasi mengenai rencana. Kemudian mulailah kita merencanakan bagaimana cara atau penerapan yang baik untuk pencapaian tujuan tersebut.  Selanjutnya, ketika kita sudah memilih rencana, maka perlu adanya pengembangan rencana dalam berbagai pertimbangan, yakni:

1.      Apakah rencana kita mampu mencapai tujuan? 
2.      Apakah aturan dan konsep rencana ini sesuai dengan situasi? 
3.      Apakah cara ini bisa diterima oleh oranglain?

Hal tersebut tentulah sangat penting untuk dilakukan karena melihat pada yang sudah-sudah, tidak semua rencana yang telah matang bisa mencapai tujuan yang diinginkan.

PEMANTAUAN DAN MERIVISI TUJUAN DAN RENCANA

          Tentu saja kita tak selalu sadar dalam hal tujuan dan perencanaan. Dalam berkomunikasi rutin setiap hari, kita mungkin berperilaku tanpa tujuan yang jelas. Contohnya: ketika kita menanyakan “hai, mau kemana?” kepada teman kita, padahal sebelumnya kita tidak memiliki rencana untuk menanyakan hal tersebut namun kita mampu untuk berbuat demikian.

          Penelitian menunjukkan, bahwa meskipun kita tidak berpikir tentang tujuan dan rencana selama percakapan, namun sekilas pada saat sedang mengobrol mulai muncul pengaktifan jaringan-jaringan dasar pemikiran yang akan memandu kita untuk memiliki tujuan dalam hal ini. Yang mana tujuan tersebut kadang tidak selalu signifikan, misalnya: kita menyapa seseorang tak lain hanya untuk dikanal baik, menjain silaturahim, dan lain sebagainya.